Oleh Mohamad Yanuar
Tak banyak klub sepakbola yang terlintas di kepala mayoritas pecinta sepakbola dunia jika menyebut negara Turki. Paling yang terbesit hanyalah Galatasaray, Besiktas atau Fenerbahce.Kedua klub ini memang merajai dunia sepakbola Turki dalam beberapa tahun terakhir, tapi tidak musim ini. Musim kompetisi 2008/09 resmi menjadi milik Sivasspor.
"Klub mana sih itu? Kok gak pernah dengar?" Demikian kawan saya bertanya ketika mengetahui informasi Sivasspor adalah kampiun kompetisi domestik Liga Nasional Turki musim ini.
Ya, Sivasspor bukanlah klub ternama. Bahkan dalam catatan sejarah sepakbola Turki pun Sivasspor bukanlah klub yang layak dipandang sebelah mata.
Dalam segi usia pun Sivasspor terbilang masih belia. Klub dari region tengah Turki itu berdiri tahun 1967, menjadi klub profesional beberapa tahun kemudian, tertahan di kompetisi divisi bawah cukup lama. Satu dekade lalu, Sivasspor masih terlibat dalam kompetisi divisi tiga, enam tahun berada di divisi dua sebelum promosi ke divisi satu pada tahun 2005.
Dan sejak saat itu Sivasspor mengejutkan pecinta sepakbola Turki. Bukan hanya berhasil bertahan, tapi juga duduk di posisi delapan di musim debut mereka di divisi satu. Musim berikutnya, posisi Sivasspor terus naik hingga akhirnya menjadi juara musim ini. Hebat! Luar Biasa! Menginspirasi! Demikian media melabeli sukses Sivasspor yang mengakhiri dominasi tiga raksasa Turki.
Yang jadi pertanyaan, bagaimana klub yang bukan apa-apa bisa menjadi yang terbaik seperti itu?
Jika Anda menebak ada dukungan finansial super hebat di belakang sukses Sivasspor itu, Anda benar. Tapi faktor tersebut tak sepenuhnya memperngaruhi tim.
Adalah kebijakan klub dalam regenerasi pemain, sistem pengembangan tim yang jitu dan dukungan fans menjadi faktor penentu kesuksesan tim ini. Dan sudah seharusnya hal itu bisa menginsiprasi banyak klub yang ingin berkembang.
Dalam urusan regenerasi pemain, keberadaan Mehmet Yildiz bisa menjadi contoh sukses Sivasspor mengembangkan aset muda mereka. Contoh keberhasilan tim dalam pengembangan tim juga bisa dilihat dari kekompakan bek Bilica, Yannick Kamanan dan kiper Michael Petkovic, yang membuat Sivasspor menjadi klub dengan pertahanan terbaik di Turki. Senioritas Servit Cetin juga memegang peran penting, termasuk kontribusi pemain ke-12, yaitu para pendukung.
Ya, ada satu kesatuan yang bisa mengantar tim menjadi sukses, mulai dari atas hingga bawah. Sivasspor memang menginsiprasi.
Sumber : goal.com


No comments:
Post a Comment