Wakil Presiden Urusan Ekonomi Barcelona, Javier Faus, mengungkapkan, klub merugi 77,1 juta euro atau sekitar Rp 901 miliar musim lalu, bukan 11 juta euro atau sekitar Rp 128 seperti yang dilaporkan manajemen sebelumnya. Ia pun menuding, manajemen Barcelona sebelumnya telah berbuat curang.
Musim lalu, Barcelona masih dikendalikan manajemen yang dipimpin Joan Laporta. Menurut Sky Sports, ketika peralihan kekuasaan dari Laporta ke Sandro Rosell, akhir musim lalu, klub hanya merugi 11 juta euro atau sekitar Rp 128 miliar.
Namun, menurut audit yang dilakukan Faus, anak buah Rosell, Barcelona menghabiskan uang sebesar 477,9 juta euro dan berpendapatan 408,9 juta euro. Itu masih ditambah pengeluaran tambahan sebesar delapan juta euro, sehingga kerugian mencapai 77,1 juta euro.
"Jumlah yang dilaporkan manajemen sebelumnya tidak merefleksikan keadaan sesungguhnya. Mereka curang," ungkap Faus.
"Ada masalah struktural. Kehebatan dalam bidang olahraga dalam beberapa tahun ke belakang tak merefleksikan kehebatan dalam bidang ekonomi. Target manajemen baru adalah membuat keunggulan olahraga berjalan sejajar dengan keunggulan ekonomi," lanjutnya.
Untuk mengangkat kondisi ekonomi, Barcelona era Rosell menjual Dymtro Chygrynskiy ke Shkahtar Donetsk senilai 15 juta euro atau sekitar Rp 171 miliar. Selain itu, mereka juga masih mencari pinjaman bank sebesar 155 juta euro atau sekitar Rp 1,8 triliun.
Di tengah situasi itu, Barcelona masih sempat mendatangkan penyerang David Villa dari Valencia dengan harga 40 juta euro atau sekitar Rp 467 miliar. Mereka juga masih mengejar gelandang Arsenal, Cesc Fabregas.
Sumber : kompas.com


No comments:
Post a Comment