Tuesday, July 13, 2010

Blatter: Fair Play Terabaikan di Final

Presiden FIFA Sepp Blatter mengungkapkan, Senin (12/7), dia tidak bisa menerima perilaku pemain pada final Piala Dunia 2010 antara Spanyol dan Belanda.

"Pertandingan final bukan yang diinginkan FIFA, tidak saya inginkan, dalam kaitan dengan fair play," cetus Blatter. "Tiga wasit yang memimpin pertandingan mendapat tekanan begitu keras di lapangan dan saya bisa katakan, pemain tidak membantu tugas wasit," cetusnya lagi.

Blater juga membantah kritik keras yang ditujukan kepada wasit Inggris Howard Webb karena gagal memimpin dengan baik. Blatter beralasan, keputusan kontroversi merupakan atraksi dari pertandingan sepak bola itu sendiri.

Webb di pertandingan itu menebarkan 13 kartu kuning--jumlah terbanyak di sebuah final Piala Dunia--dan mengusir bek Belanda John Heitinga di babak perpanjangan waktu.

"Itu merupakan aspek kemanusiaan di pertandingan sepak bola," ungkap Blatter. "Jika pertandingan kami sempurna, jika pertandingan kami ilmiah, jika pertandingan kami dikontrol teknologi, oleh sains, tidak akan ada lagi diskusi," jelas Blatter.

"Ini sepak bola. Kami harus hidup dengan kesalahan, kesalahan dari pemain dan kesalahan dari wasit. Saya tidak berpikir kesempurnaan terus terjadi," tambah Blatter.

Blatter menambahkan, dia tidak merasa disoraki penonton ketika memasuki lapangan hijau di Stadion Soccer City, sebelum ertandingan dilangsungkan. "Salah satu yang saya perhatikan, tidak ada terlalu banyak Vuvuzela yang berbunyi," jelasnya.

"Saya tidak tahu mengenai itu. Di negeri ini dan di manapun saya berada, saya selalu diterima sebagai seorang sahabat, demikian pula di Afrika," tandas Blatter.

"Kemarin (di laga final Piala Dunia 2010) kejadiannya juga sama, kami berada di lapangan untuk bermain. Saya bisa katakan itu momen yang tidak terlupakan," tutur Blatter lagi.

Sumber : mediaindonesia.com

No comments:

Post a Comment