Setelah sekian lama memilih bungkam, kapten Arsenal Cesc Fabregas akhirnya buka suara. Fabregas mengaku, perasaannya kini terbelah dua antara Barcelona dan Arsenal.
Beberapa hari yang lalu, Fabregas melakukan pembicaraan internal dengan pelatih Arsene Wenger. Sayangnya, bukan mendapat pencerahan terhadap kasus yang tengah melilit dirinya, pemain tim nasional Spanyol ini justru mengalami dilema besar.
Di satu sisi, Fabregas mengaku amat ingin kembali ke Barcelona, klub masa kecilnya yang hingga saat ini masih menjadi klub kesayangannya. Namun di sisi lain, pemain berusia 23 tahun ini, juga ingin menghormati klubnya sekarang, Arsenal.
"Aku adalah pendukung Barcelona. Aku seorang Barcelona, seperti halnya kakekku, pamanku, dan sepupuku. Aku telah merasakan warna Barca sejak aku masih kecil. Aku seroang Catalan," ungkap Fabregas.
"Meski begitu, aku tetap kapten Arsenal. Aku juga seorang 'Gunner'. Di sana, aku telah menjadi pemain dan matang secara personal," tambahnya.
Selain faktor kecintaan dan menghormati klub, Fabregas juga menyebut bahwa sosok Wenger menjadi alasan lainnya. Fabregas mengaku sangat menghormati monseour Perancis itu. Di mata pemain berusia 23 tahun ini, Wenger adalah ayah keduanya.
"Wenger adalah ayah kedua bagiku, orang terpenting dalam hidupku setelah ayahku. Wenger telah bersikap baik padaku selama ini dan menjagaku layaknya seorang putra. Aku telah menjadi bagian dari keluarganya," puji Fabregas.
"Wenger tak mau aku pergi, dan di percakapan terakhirku dengannya di London, itu merupakan masa tersulit yang pernah aku alami. Aku mengakhiri perbincangan itu dengan emosi," tutupnya.
"Meski begitu, aku tetap kapten Arsenal. Aku juga seorang 'Gunner'. Di sana, aku telah menjadi pemain dan matang secara personal," tambahnya.
Selain faktor kecintaan dan menghormati klub, Fabregas juga menyebut bahwa sosok Wenger menjadi alasan lainnya. Fabregas mengaku sangat menghormati monseour Perancis itu. Di mata pemain berusia 23 tahun ini, Wenger adalah ayah keduanya.
"Wenger adalah ayah kedua bagiku, orang terpenting dalam hidupku setelah ayahku. Wenger telah bersikap baik padaku selama ini dan menjagaku layaknya seorang putra. Aku telah menjadi bagian dari keluarganya," puji Fabregas.
"Wenger tak mau aku pergi, dan di percakapan terakhirku dengannya di London, itu merupakan masa tersulit yang pernah aku alami. Aku mengakhiri perbincangan itu dengan emosi," tutupnya.
Sumber : kompas.com


No comments:
Post a Comment