FIFA dalam waktu dekat akan menghapuskan perpanjangan waktu dan menghidupkan kembali peraturan "golden goal" untuk menentukan hasil pertandingan di Piala Dunia. Menurutnya, babak perpanjangan waktu cuma membuang energi dan tidak menarik, karena tim cenderung bertahan dan mengharapkan adu penalti.
"Kami harus mencoba menemukan cara membangkitkan sepak bola yang mengalir bebas dalam turnamen seperti Piala Dunia, dengan tim yang bermain untuk menang. Kami berencana mengambil kesempatan mengevaluasi konsep perpanjangan waktu,"
"Sering kita lihat, tim-tim membawa diri mereka sendiri kepada permainan defensif pada perpanjangan waktu, dalam usaha menghindari gol dengan segala cara,"
"Untuk mencegahnya, kami bisa mengatur supaya pertandingan langsung masuk babak adu penalti di akhir babak normal atau menghidupkan kembali peraturan "golden goal". Kita kaji itu pada pertemuan komite (September ini)," terangnya.
"Golden goal" diperkenalkan FIFA pada 1993 dan digunakan pertama kali di turnamen internasional pada Piala Eropa 1996. Golden gol pertama dicetak oleh Paul Tait, yang menentukan kemenangan timnya, Birmingham 1-0 atas Carlisel, pada pertandingan final Auto Windscreens Shield 1995.
Pada Piala Eropa 1996, goden gol dicetak oleh pemain Jerman, Oliver Bierhoff ke gawang Ceska. Perancis juga mengalahkan Italia dengan golden gol, pada Piala Eropa 2000.
Di Piala Dunia, "golden goal" pertama kali diperkenalkan pada Piala Dunia 1998. Saat itu, di babak 16 besar, Perancis mengalahkan Paraguay dengan cara ini, berkat gol Laurent Blanc.
"Golden goal" dihapus setelah Piala Eropa 2004. Sejumlah kalangan menilai, penghapusan "golden goal" mendukung berkembangnya sepak bola defensif.
UEFA kemudian mencoba peraturan "silver goal", tetapi aturan ini kurang populer.
Peraturan "Golden goal" menjadikan tim pertama yang mencetak gol pada babak tambahan sebagai pemenang. Adapun, "silver gol" adalah peraturan yang menentukan kemenangan diberikan kepada tim yang mampu unggul dan mempertahankan keunggulan itu sampai akhir babak tambahan.
"Kami harus mencoba menemukan cara membangkitkan sepak bola yang mengalir bebas dalam turnamen seperti Piala Dunia, dengan tim yang bermain untuk menang. Kami berencana mengambil kesempatan mengevaluasi konsep perpanjangan waktu,"
"Sering kita lihat, tim-tim membawa diri mereka sendiri kepada permainan defensif pada perpanjangan waktu, dalam usaha menghindari gol dengan segala cara,"
"Untuk mencegahnya, kami bisa mengatur supaya pertandingan langsung masuk babak adu penalti di akhir babak normal atau menghidupkan kembali peraturan "golden goal". Kita kaji itu pada pertemuan komite (September ini)," terangnya.
"Golden goal" diperkenalkan FIFA pada 1993 dan digunakan pertama kali di turnamen internasional pada Piala Eropa 1996. Golden gol pertama dicetak oleh Paul Tait, yang menentukan kemenangan timnya, Birmingham 1-0 atas Carlisel, pada pertandingan final Auto Windscreens Shield 1995.
Pada Piala Eropa 1996, goden gol dicetak oleh pemain Jerman, Oliver Bierhoff ke gawang Ceska. Perancis juga mengalahkan Italia dengan golden gol, pada Piala Eropa 2000.
Di Piala Dunia, "golden goal" pertama kali diperkenalkan pada Piala Dunia 1998. Saat itu, di babak 16 besar, Perancis mengalahkan Paraguay dengan cara ini, berkat gol Laurent Blanc.
"Golden goal" dihapus setelah Piala Eropa 2004. Sejumlah kalangan menilai, penghapusan "golden goal" mendukung berkembangnya sepak bola defensif.
UEFA kemudian mencoba peraturan "silver goal", tetapi aturan ini kurang populer.
Peraturan "Golden goal" menjadikan tim pertama yang mencetak gol pada babak tambahan sebagai pemenang. Adapun, "silver gol" adalah peraturan yang menentukan kemenangan diberikan kepada tim yang mampu unggul dan mempertahankan keunggulan itu sampai akhir babak tambahan.
Sumber : kompas.com


No comments:
Post a Comment