Pernah menjadi tukang loak, menjadi striker akibat trauma yang dialami saat menjadi kiper, dan sempat tidak suka dengan nama Grafite. Itulah sepenggal kisah masa lalu dari sang bomber maut Vfl Wolfsburg.
Grafite. Nama ini menjadi momok bagi setiap penjaga gawang lawan. Musim lalu, ia keluar sebagai top skorer Bundesliga. Tak hanya prestasi pribadi, namun donasi 28 gol-nya membawa Wolfsburg meraih gelar juara Bundesliga.
Ketika telah berada di puncak kejayaan, pemain yang kini berusia 30 tahun tersebut berbagi tentang kisah masa lalunya.
Grafite mengatakan bahwa pada masa kecil, ia bermain sebagai penjaga gawang. Namun sebuah kejadian yang cukup menyakitkan membuatnya tak lagi ingin untuk menjadi kiper.
"Hingga usia 12 tahun saya adalah kiper. Suatu hari, ada pemain lawan yang menendang bola ke arah saya dan sepakannya mengenai bagian bawah dari tubuh saya," ujar Grafite seperti dilansir dari Daily Mail.
"Sejak itu, saya mengatakan bahwa saya tidak ingin jadi kiper lagi dan ucapan saya terwujud," tambah pria berkebangsaan Brasil itu.
Bagaimana dengan perjalanan karirnya? "Saya cukup terlambat terjun ke dunia profesional, saat berusia 22 tahun. Sebab, sebelumnya saya harus bekerja sebagai tukang loak," lanjutnya.
Pemain bernama lengkap Edinaldo Batista Libano itu selanjutnya meninggalkan kota kelahirannya, Sao Paolo dan mengikuti seleksi pemain di klub SE Mantonese. Di tim inilah, nama Grafite ia dapatkan.
"Ketika itu banyak pemain yang ikut tes di Mantonese. Pelatih tidak tahu nama saya, jadi saya dipanggil Grafite."
"Awalnya saya tidak suka dengan panggilan itu. Selanjutnya saya berkata kepada pelatih bahwa nama saya Edinaldo. Pelatih beralasan, dahulu dia pernah bermain dengan orang yang seperti saya dan namanya Grafite."
"Saya lolos seleksi dan ketika didaftarkan, saya mendapatkan kaos bernomor punggung 18 dengan nama Grafite. Nama itu tetap saya pakai hingga saat ini dan sejak itu jalan hidup saya bagus," tuntasnya.
Grafite berseragam Matonense di musim 1999-2000. Ia hanya tampil empat kali, tapi mencetak tujuh gol. Selanjutnya, ia berkelana ke berbagai klub. Klub-klub Brasil seperti Gremio, Sao Paulo, hingga klub dari Korea Selatan yakni Anyang LG Cheetahs pernah ia perkuat.
Satu dekade sejak awal perjuangan itu, Grafite telah memetik hasilnya.
Sumber : detiksport
Grafite. Nama ini menjadi momok bagi setiap penjaga gawang lawan. Musim lalu, ia keluar sebagai top skorer Bundesliga. Tak hanya prestasi pribadi, namun donasi 28 gol-nya membawa Wolfsburg meraih gelar juara Bundesliga.
Ketika telah berada di puncak kejayaan, pemain yang kini berusia 30 tahun tersebut berbagi tentang kisah masa lalunya.
Grafite mengatakan bahwa pada masa kecil, ia bermain sebagai penjaga gawang. Namun sebuah kejadian yang cukup menyakitkan membuatnya tak lagi ingin untuk menjadi kiper.
"Hingga usia 12 tahun saya adalah kiper. Suatu hari, ada pemain lawan yang menendang bola ke arah saya dan sepakannya mengenai bagian bawah dari tubuh saya," ujar Grafite seperti dilansir dari Daily Mail.
"Sejak itu, saya mengatakan bahwa saya tidak ingin jadi kiper lagi dan ucapan saya terwujud," tambah pria berkebangsaan Brasil itu.
Bagaimana dengan perjalanan karirnya? "Saya cukup terlambat terjun ke dunia profesional, saat berusia 22 tahun. Sebab, sebelumnya saya harus bekerja sebagai tukang loak," lanjutnya.
Pemain bernama lengkap Edinaldo Batista Libano itu selanjutnya meninggalkan kota kelahirannya, Sao Paolo dan mengikuti seleksi pemain di klub SE Mantonese. Di tim inilah, nama Grafite ia dapatkan.
"Ketika itu banyak pemain yang ikut tes di Mantonese. Pelatih tidak tahu nama saya, jadi saya dipanggil Grafite."
"Awalnya saya tidak suka dengan panggilan itu. Selanjutnya saya berkata kepada pelatih bahwa nama saya Edinaldo. Pelatih beralasan, dahulu dia pernah bermain dengan orang yang seperti saya dan namanya Grafite."
"Saya lolos seleksi dan ketika didaftarkan, saya mendapatkan kaos bernomor punggung 18 dengan nama Grafite. Nama itu tetap saya pakai hingga saat ini dan sejak itu jalan hidup saya bagus," tuntasnya.
Grafite berseragam Matonense di musim 1999-2000. Ia hanya tampil empat kali, tapi mencetak tujuh gol. Selanjutnya, ia berkelana ke berbagai klub. Klub-klub Brasil seperti Gremio, Sao Paulo, hingga klub dari Korea Selatan yakni Anyang LG Cheetahs pernah ia perkuat.
Satu dekade sejak awal perjuangan itu, Grafite telah memetik hasilnya.
Sumber : detiksport

No comments:
Post a Comment