Showing posts with label Asal Usul. Show all posts
Showing posts with label Asal Usul. Show all posts
Friday, April 26, 2013
Striker Newcastle itu Ternyata Bekas Sopir Mobil Ambulan
Monday, September 10, 2012
Jamaika Terus Menanti Sterling
Raheem Sterling (Photo :dok. SOCCER)
Pamor Raheem Sterling tengah menanjak. Pada usianya yang menginjak 17 tahun, dia kerap menembus starting line-up Liverpool.
Baca Selengkapnya..
Saturday, September 8, 2012
Kenangan Mereka di La Masia
"La Masia angkatan 2003"
Foto ini diambil pada tahun 2003. Dari skuad akademi La Masia Barcelona, dimana Lionel Messi, Gerard Pique, dan Cesc Fabregas ada di dalamnya. Ada cerita menarik di balik foto ini, termasuk tentang bocah bernama Lionel Messi yang memakai topeng.
Friday, October 15, 2010
Villa Terharu oleh Penyelamatan Penambang Cile
Striker Barcelona, David Villa, mengaku terhadu dan bahagia karena 33 penambang Cile yang terjebak selama 69 hari akhirnya bisa selamat.
Baca Selengkapnya..
Monday, October 11, 2010
Putra Legenda Brasil Pilih Timnas Spanyol
“Saya telah membuat kepastian dan tidak akan menimbulkan keraguan siapapun."
Bintang masa depan Barcelona, Thiago Alcantara, akhirnya memutuskan memilih timnas Spanyol dibanding Brasil. Padahal Thiago adalah putra legenda Brasil, Iomar do Nascimento, atau yang lebih dikenal dengan nama Mazinho.
Baca Selengkapnya..
Bintang masa depan Barcelona, Thiago Alcantara, akhirnya memutuskan memilih timnas Spanyol dibanding Brasil. Padahal Thiago adalah putra legenda Brasil, Iomar do Nascimento, atau yang lebih dikenal dengan nama Mazinho.
Thursday, October 7, 2010
Chadli Siap Pilih Maroko
Pemain kelahiran Belgia berdarah Maroko, Nacer Chadli, kini tak lagi ragu memilih timnas.
"Kalau seperti Ibrahim Afellay, mudah saja memilih antara timnas Maroko atau Belanda," ungkap Nacer Chadli mengungkapkan kegundahannya.
Baca Selengkapnya..
"Kalau seperti Ibrahim Afellay, mudah saja memilih antara timnas Maroko atau Belanda," ungkap Nacer Chadli mengungkapkan kegundahannya.
Monday, September 27, 2010
Gelandang Mainz Lebih Pilih Jerman Ketimbang Inggris
Gelandang FSV 05 Mainz, Lewis Holtby, telah menolak kesempatan membela tim nasional Inggris, dan lebih memilih menunggu panggilan dari timnas Jerman.
Baca Selengkapnya..
Tuesday, September 21, 2010
Prancis Dan Spanyol Berebut Enzo Zidane
Prancis dan Spanyol diam-diam berebut Enzo Zidane, putra tertua Zinedine Zidane.
Prancis memilih Enzo, yang bermain sebagai gelandang serang, untuk masuk timnas U16. Spanyol diam-diam juga menginginkannya, dan telah mendaftarkannya untuk masuk ke tim U16.
Baca Selengkapnya..
Prancis memilih Enzo, yang bermain sebagai gelandang serang, untuk masuk timnas U16. Spanyol diam-diam juga menginginkannya, dan telah mendaftarkannya untuk masuk ke tim U16.
Saturday, August 7, 2010
Republika OnLine » Sepakbola » Liga Indonesia Timnas Siapkan Kuota untuk Pemain Naturalisasi
Tim Nasional (timnas) Indonesia di bawah asuhan pelatih asal Austria, Alfred Riedl, menyiapkan kuota bagi pemain naturasilasi untuk masuk tim yang akan berlaga di SEA Games 2011.
Baca Selengkapnya..
Saturday, July 17, 2010
Asal-usul Kartu Merah dan Kuning
Kartu kuning dan merah yang digunakan wasit untuk memberi sanksi pelanggaran pemain terinspirasi dari traffic light.
APAKAH penggunaan kartu merah dan kuning sudah dikenal begitu sepak bola modern muncul? Jawabannya tidak. Kartu merah dan kuning baru diperkenalkan pada Piala Dunia 1970.
Baca Selengkapnya..
Friday, July 16, 2010
Orangtua Gio van Bronckhorst: Anak yang Baik
Partai final Piala Dunia 2010 melawan Spanyol, Minggu (11/7) di Soccer City, Johannesburg, adalah pertandingan penutup karier bek kiri dan kapten tim nasional Belanda, Giovanni van Bronckhorst. Otomatis laga itu memiliki arti emosional buat Gio dan keluarganya.
Wartawan BOLA/Bolanews, Dwi Widijatmiko dan Darojatun, bertemu dengan kedua orang tua Gio, Victor (50) dan Fransien van Bronckhorst (53), di Hotel Sandton Sun, Johannesburg, Jumat (9/7). Bagaimana Victor dan Fransien memandang perjalanan karier dan kehidupan Gio sampai saat ini? Berikut petikan perbincangan BOLA/Bolanews dengan Victor dan Fransien.
Bagaimana perasaan setelah Belanda lolos ke final dengan Gio menjadi kapten?
Victor: Kami sangat bangga. Anak kami menjadi kapten Belanda yang menyelesaikan kariernya di partai final Piala Dunia.
Fransien: Semua orang tua pasti bangga pada anaknya, entah dia pesepak bola atau jurnalis. Kami yakin masyarakat Indonesia juga merasa bangga karena Gio berdarah Indonesia.
Anda tahu di Ambon pada partai final begitu banyak orang memakai jersey Belanda berwarna oranye?
V: Ya, tentu saja. Kami masih memiliki banyak keluarga dan teman di Ambon. Dari mereka dan membaca kabar dari Facebook, kami tahu orang di sana memakai jersey oranye, tato Belanda, mengecat mobilnya dengan warna oranye, bahkan berkonvoi.
Setelah pensiun, apa rencana Gio?
V: Dia bilang akan belajar untuk mendapatkan sertifikat pelatih. Dia ingin menjadi asisten pelatih Feyenoord Rotterdam dan pelatih tim junior Belanda.
Kapan Gio bisa mengunjungi Indonesia dan barangkali membantu perkembangan sepak bola Indonesia?
V: Mungkin Gio belum menemukan waktu yang pas. Kami berdua yang sering berkunjung ke Indonesia, kira-kira dua kali dalam setahun.
F: Ya, kami sering ke Jakarta, Bali, Ambon. Kalau sedang di Jakarta, kami biasanya tinggal di rumah kerabat di Cinere. Kerabat kami itu dokter hati di Rumah Sakit Cinere. Kami pertama kali datang ke Indonesia pada Agustus 1996, tepat pada saat Gio melakukan debutnya untuk Belanda.
Apa yang Gio ingat tentang Indonesia?
V: Yang jelas akarnya dalam keluarga. Dia bangga memiliki darah Indonesia. Gio menyukai makanan Indonesia dan dia juga bisa memasak makanan Indonesia.
F: Sebagai orang Indonesia, ayah saya (kakek Gio) mengajarinya untuk selalu bekerja keras. Ayah saya bangga pada Gio karena dia selalu melakukan nasehatnya.
Bisa ceritakan hal ternakal yang pernah dilakukan Gio waktu kecil?
V: Gio tidak pernah nakal. Dia malah sudah profesional sejak kecil. Kami tidak pernah mengalami masalah membesarkannya. Dia anak yang baik.
F: Gio sudah disiplin sejak kecil. Dia bisa membagi waktu sendiri. Misalnya teman-temannya mengajak jalan-jalan, dia akan memilih pulang pukul 8 malam karena esok harinya harus berlatih.
Kebanggaan macam apa yang didapatkan orang tua Giovanni van Bronckhorst?
V: Bisa bepergian ke mana-mana mendampinginya. Kami pernah ke Skotlandia, Inggris, dan Spanyol. Itu kebanggaan buat kami.
F: Dulu kami harus bersusah-payah membelikan Gio sepatu sepak bola dan mengirimnya ke akademi sepak bola karena gaji dari pekerjaan kami tidak besar. Gio sekarang memiliki gaji besar dari profesinya. Kini dia memberi balik kepada keluarganya. Itu juga kebanggaan buat kami.
Gio sekarang sudah berusia 35 tahun. Itu berarti Gio lahir ketika Anda berdua masih sangat muda.
V: Ya, betul. Sampai sekarang banyak orang mengira saya adalah kakak dari Gio.
F: Gio lahir saat kami masih muda. Kami sendiri menikah tahun 1982. Tapi, kami yakin pada keputusan itu. Kami percaya usia muda dan kehidupan yang belum mapan tidak selalu menjadi penyebab sebuah keluarga berantakan. Nyatanya kami baik-baik saja sampai sekarang, memiliki keluarga besar yang bahagia dengan empat cucu dari Gio dan adiknya, Elvira.
Gio sangat peduli pada keluarganya?
V: Tentu. Keluarga besar kami beranggotakan lebih dari seratus orang. Gio sangat peduli pada semuanya.
Dari keluarga besar ini, ada yang mengikuti jejak Gio menjadi pesepak bola?
F: Ada. Anak Gio sekarang di tim junior Feyenoord. Keponakannya, Virgil Munsel, kini juga bermain di Sparta Rotterdam. Mereka bangga karena memiliki ayah, paman, dan kakak seperti Gio.
Sumber : www.bolanews.com
Baca Selengkapnya..
Wartawan BOLA/Bolanews, Dwi Widijatmiko dan Darojatun, bertemu dengan kedua orang tua Gio, Victor (50) dan Fransien van Bronckhorst (53), di Hotel Sandton Sun, Johannesburg, Jumat (9/7). Bagaimana Victor dan Fransien memandang perjalanan karier dan kehidupan Gio sampai saat ini? Berikut petikan perbincangan BOLA/Bolanews dengan Victor dan Fransien.
Bagaimana perasaan setelah Belanda lolos ke final dengan Gio menjadi kapten?
Victor: Kami sangat bangga. Anak kami menjadi kapten Belanda yang menyelesaikan kariernya di partai final Piala Dunia.
Fransien: Semua orang tua pasti bangga pada anaknya, entah dia pesepak bola atau jurnalis. Kami yakin masyarakat Indonesia juga merasa bangga karena Gio berdarah Indonesia.
Anda tahu di Ambon pada partai final begitu banyak orang memakai jersey Belanda berwarna oranye?
V: Ya, tentu saja. Kami masih memiliki banyak keluarga dan teman di Ambon. Dari mereka dan membaca kabar dari Facebook, kami tahu orang di sana memakai jersey oranye, tato Belanda, mengecat mobilnya dengan warna oranye, bahkan berkonvoi.
Setelah pensiun, apa rencana Gio?
V: Dia bilang akan belajar untuk mendapatkan sertifikat pelatih. Dia ingin menjadi asisten pelatih Feyenoord Rotterdam dan pelatih tim junior Belanda.
Kapan Gio bisa mengunjungi Indonesia dan barangkali membantu perkembangan sepak bola Indonesia?
V: Mungkin Gio belum menemukan waktu yang pas. Kami berdua yang sering berkunjung ke Indonesia, kira-kira dua kali dalam setahun.
F: Ya, kami sering ke Jakarta, Bali, Ambon. Kalau sedang di Jakarta, kami biasanya tinggal di rumah kerabat di Cinere. Kerabat kami itu dokter hati di Rumah Sakit Cinere. Kami pertama kali datang ke Indonesia pada Agustus 1996, tepat pada saat Gio melakukan debutnya untuk Belanda.
Apa yang Gio ingat tentang Indonesia?
V: Yang jelas akarnya dalam keluarga. Dia bangga memiliki darah Indonesia. Gio menyukai makanan Indonesia dan dia juga bisa memasak makanan Indonesia.
F: Sebagai orang Indonesia, ayah saya (kakek Gio) mengajarinya untuk selalu bekerja keras. Ayah saya bangga pada Gio karena dia selalu melakukan nasehatnya.
Bisa ceritakan hal ternakal yang pernah dilakukan Gio waktu kecil?
V: Gio tidak pernah nakal. Dia malah sudah profesional sejak kecil. Kami tidak pernah mengalami masalah membesarkannya. Dia anak yang baik.
F: Gio sudah disiplin sejak kecil. Dia bisa membagi waktu sendiri. Misalnya teman-temannya mengajak jalan-jalan, dia akan memilih pulang pukul 8 malam karena esok harinya harus berlatih.
Kebanggaan macam apa yang didapatkan orang tua Giovanni van Bronckhorst?
V: Bisa bepergian ke mana-mana mendampinginya. Kami pernah ke Skotlandia, Inggris, dan Spanyol. Itu kebanggaan buat kami.
F: Dulu kami harus bersusah-payah membelikan Gio sepatu sepak bola dan mengirimnya ke akademi sepak bola karena gaji dari pekerjaan kami tidak besar. Gio sekarang memiliki gaji besar dari profesinya. Kini dia memberi balik kepada keluarganya. Itu juga kebanggaan buat kami.
Gio sekarang sudah berusia 35 tahun. Itu berarti Gio lahir ketika Anda berdua masih sangat muda.
V: Ya, betul. Sampai sekarang banyak orang mengira saya adalah kakak dari Gio.
F: Gio lahir saat kami masih muda. Kami sendiri menikah tahun 1982. Tapi, kami yakin pada keputusan itu. Kami percaya usia muda dan kehidupan yang belum mapan tidak selalu menjadi penyebab sebuah keluarga berantakan. Nyatanya kami baik-baik saja sampai sekarang, memiliki keluarga besar yang bahagia dengan empat cucu dari Gio dan adiknya, Elvira.
Gio sangat peduli pada keluarganya?
V: Tentu. Keluarga besar kami beranggotakan lebih dari seratus orang. Gio sangat peduli pada semuanya.
Dari keluarga besar ini, ada yang mengikuti jejak Gio menjadi pesepak bola?
F: Ada. Anak Gio sekarang di tim junior Feyenoord. Keponakannya, Virgil Munsel, kini juga bermain di Sparta Rotterdam. Mereka bangga karena memiliki ayah, paman, dan kakak seperti Gio.
Sumber : www.bolanews.com
Thursday, July 8, 2010
Pelajaran dari Calcio Storico
Calcio Storico, Cikal Bakal Sepak Bola di Italia
Calcio Storico yang dimainkan di Piazza Santacroze. (Foto: Dok. Euromaxx)
Menarik melihat tayangan DW-TV Asia+ di Channel 357 Indovision pada akhir Juni lalu. Dalam salah satu tayangan Euromaxx – program khusus yang tren, fesyen, kultur, dan seni di Eropa, dibahas sebuah permainan bernama Calcio Storico.
Baca Selengkapnya..
Label:
Asal Usul,
Sepakbola dan Sejarah,
Serba - Serbi
Wednesday, June 30, 2010
Fakta Baru Mengenai Penemu Sepakbola
Sebuah suratkabar Vatikan, L´Osservatore Romano, menemukan bukti bahwa salah satu suku di Paraguay, Guarani, memainkan sepak bola jauh sebelum Inggris mengklaim bahwa mereka menciptakan sepak bola.
Dalam pengetahuan yang awam tentang sepak bola bahwa olahraga ternama di dunia ini ditemukan di Inggris dan kemudian dimainkan ke sejumlah negara lainnya. Pada 1863, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) kemudian membuat peraturan baku sepak bola yang akhirnya menjadi cikal-bakal sepak bola modern saat ini.
Namun, pengetahuan itu dipatahkan oleh sebuah artikel di suratkabar Vatikan, L´Osservatore Romano, edisi Senin 28 Juni 2010. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa sepak bola justru kali pertama ditemukan oleh suku Guarani di Paraguay pada 1793, 70 tahun sebelum klaim Inggris.
Artikel tersebut menggunakan sumber seorang pendeta bernama Juan Manuel Peramas, yang menulis di buku harian ketika ditugaskan di Paraguay pada 1793. Peramas menulis, "(Para Guarani) biasanya bermain dengan bola itu, meski dibuat dari karet keras, tapi cukup ringan dan cepat jika ditendang, bola memantul dengan cepat sebelum dihentikan."
"Mereka tidak melempar bola dengan tangan, seperti yang kita lakukan, tapi menggunakan kaki dalamnya, mengumpan dan mengontrol dengan ketangkasan dan ketepatan."
Penulis artikel, Gianpaolo Romanato, menjadikan tulisan Peramas sebagai bukti bahwa Inggris bukanlah penemu sepak bola.
"Suku Guarani jelas-jelas tiga abad yang lalu sudah memainkannya. Pada akhirnya adalah mereka (Guarani) adalah benar-benar penemu sepak bola," papar Romanato.
Laporan: Haryanto Tri Wibowo
Sumber : VIVAnews
Baca Selengkapnya..
Dalam pengetahuan yang awam tentang sepak bola bahwa olahraga ternama di dunia ini ditemukan di Inggris dan kemudian dimainkan ke sejumlah negara lainnya. Pada 1863, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) kemudian membuat peraturan baku sepak bola yang akhirnya menjadi cikal-bakal sepak bola modern saat ini.
Namun, pengetahuan itu dipatahkan oleh sebuah artikel di suratkabar Vatikan, L´Osservatore Romano, edisi Senin 28 Juni 2010. Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa sepak bola justru kali pertama ditemukan oleh suku Guarani di Paraguay pada 1793, 70 tahun sebelum klaim Inggris.
Artikel tersebut menggunakan sumber seorang pendeta bernama Juan Manuel Peramas, yang menulis di buku harian ketika ditugaskan di Paraguay pada 1793. Peramas menulis, "(Para Guarani) biasanya bermain dengan bola itu, meski dibuat dari karet keras, tapi cukup ringan dan cepat jika ditendang, bola memantul dengan cepat sebelum dihentikan."
"Mereka tidak melempar bola dengan tangan, seperti yang kita lakukan, tapi menggunakan kaki dalamnya, mengumpan dan mengontrol dengan ketangkasan dan ketepatan."
Penulis artikel, Gianpaolo Romanato, menjadikan tulisan Peramas sebagai bukti bahwa Inggris bukanlah penemu sepak bola.
"Suku Guarani jelas-jelas tiga abad yang lalu sudah memainkannya. Pada akhirnya adalah mereka (Guarani) adalah benar-benar penemu sepak bola," papar Romanato.
Laporan: Haryanto Tri Wibowo
Sumber : VIVAnews
Label:
Asal Usul,
Sepakbola dan Sejarah
Wednesday, June 16, 2010
Senderos Melawan Tanah Leluhur
Partai Spanyol kontra Swiss tak sekadar jadi partai perdana di Piala Dunia bagi Philippe Senderos. Lebih dari itu Senderos untuk pertama kalinya akan berhadapan dengan negara yang merupakan tanah leluhurnya itu.
Senderos memang dilahirkan di Jenewa ibukota Swiss dan menghabiskan masa mudanya di tim junior Servette yang merupakan klub lokal sana. Namun pemuda kelahiran 14 Februari 25 tahun lalu itu ternyata memiliki darah Spanyol yang berasal dari ayahnya.
Dalam perkembangannya menjadi pesepakbola profesional seperti sekarang ini, Senderos memilih membela tanah kelahirannya Swiss. Sejak melakoni debutnya lima tahun lalu Senderos sudah mengumpulkan 39 caps dan lima gol.
Penampilan ke-40nya akan terasa sangat spesial karena akan dilakukannya di turnamen sekelas Piala Dunia dan melawan Spanyol yang merupakan daerah asal mantan bek Arsenal itu. Dalam laga yang dihelat di Moses Mahibda Stadium, Rabu (16/6) malam WIB, ayah Senderos berencana akan menontonnya.
Jelas laga tersebut disambut gembira Senderos yang sudah menganggap Spanyol sebagai rumah keduanya. Dan ia pun berjanji tampil sebaiknya untuk menyulitkan Spanyol yang merupakan unggulan di Piala Dunia kali ini.
"Ya ini adalah pertandingan yang sangat penting dalam karirku. Karena ayahku berasal dari Spanyol dan aku tumbuh besar bersama semua sepupuku di Spanyol di mana aku menghabiskan musim liburan panasku di sana. Aku sangat dekat dengan negara ini," tutur Senderos yang dilansir Reuters.
"Ini pertama dalam karirku aku melawan Spanyol. Aku doakan yang terbaik untuk Spanyol namun tentu aku adalah seorang Swiss. Aku lahir di Swiss dan sangat bangat mengenakan warna (Merah) ini," tegasnya.
"Kami tidak punya beban berat besok dan Spanyol yang mendapat beban berat itu. Mereka mau memulai kompetisi ini dengan baik dan mudah-mudahan kami dapat menyulitkan mereka," pungkas bek yang fasih berbicara Inggris, Prancis, Spanyol, Italia dan Jerman itu.
Sumber : detiksports
Baca Selengkapnya..
Senderos memang dilahirkan di Jenewa ibukota Swiss dan menghabiskan masa mudanya di tim junior Servette yang merupakan klub lokal sana. Namun pemuda kelahiran 14 Februari 25 tahun lalu itu ternyata memiliki darah Spanyol yang berasal dari ayahnya.
Dalam perkembangannya menjadi pesepakbola profesional seperti sekarang ini, Senderos memilih membela tanah kelahirannya Swiss. Sejak melakoni debutnya lima tahun lalu Senderos sudah mengumpulkan 39 caps dan lima gol.
Penampilan ke-40nya akan terasa sangat spesial karena akan dilakukannya di turnamen sekelas Piala Dunia dan melawan Spanyol yang merupakan daerah asal mantan bek Arsenal itu. Dalam laga yang dihelat di Moses Mahibda Stadium, Rabu (16/6) malam WIB, ayah Senderos berencana akan menontonnya.
Jelas laga tersebut disambut gembira Senderos yang sudah menganggap Spanyol sebagai rumah keduanya. Dan ia pun berjanji tampil sebaiknya untuk menyulitkan Spanyol yang merupakan unggulan di Piala Dunia kali ini.
"Ya ini adalah pertandingan yang sangat penting dalam karirku. Karena ayahku berasal dari Spanyol dan aku tumbuh besar bersama semua sepupuku di Spanyol di mana aku menghabiskan musim liburan panasku di sana. Aku sangat dekat dengan negara ini," tutur Senderos yang dilansir Reuters.
"Ini pertama dalam karirku aku melawan Spanyol. Aku doakan yang terbaik untuk Spanyol namun tentu aku adalah seorang Swiss. Aku lahir di Swiss dan sangat bangat mengenakan warna (Merah) ini," tegasnya.
"Kami tidak punya beban berat besok dan Spanyol yang mendapat beban berat itu. Mereka mau memulai kompetisi ini dengan baik dan mudah-mudahan kami dapat menyulitkan mereka," pungkas bek yang fasih berbicara Inggris, Prancis, Spanyol, Italia dan Jerman itu.
Sumber : detiksports
Label:
Asal Usul,
Piala Dunia 2010
Thursday, May 27, 2010
Kamerun Menunggu Izin FIFA Untuk Dua Pemainnya
Eric Choupo-Motings dan Gaetan Bong masih menunggu izin FIFA (Photo : camfoot.com)
Kamerun menunggu ijin dari FIFA untuk dua pemain yang sebelumnya sudah dimasukkan dalam tim mereka yang akan berlaga di Piala Dunia di Afrika Selatan seperti dilaporkan Reuters.
Pemain bertahan Gaetan Bong dan penyerang depan Eric Choupo-Moting tidak diturunkan bersama pemain lainnya pada pertandingan persahabatan melawan Georgia di Linz Selasa, karena badan sepakbola dunia tidak memberikan ijin kepada mereka untuk beralih kewarganegaraan, demikian keterangan pelatih Paul Le Guen kepada reporter.
Bong adalah mantan pemain junior Perancis sedangkan Choupo-Moting telah bermain empat kali untuk Jerman dalam tim di bawah usia-21 tahun.
Keduanya adalah keturunan Kamerun dan memiliki kewarganegaraan ganda.
Berdasarkan aturan FIFA, pemain sepak bola dapat mengubah kewarganegaraan mereka jika mereka belum bermain di tingkat senior.
Kedua pemain ini dipilih bersama pemain baru lainnya di dalam 30 nama skuad awal pemain untuk Piala Dunia Afrika Selatan, yang akan berlangsung 11 Juni-11 Juli.
Kamerun di grup E akan berhadapan dengan Denmark, Jepang dan Belanda
Sumber : antaranews.co
Baca Selengkapnya..
Pemain bertahan Gaetan Bong dan penyerang depan Eric Choupo-Moting tidak diturunkan bersama pemain lainnya pada pertandingan persahabatan melawan Georgia di Linz Selasa, karena badan sepakbola dunia tidak memberikan ijin kepada mereka untuk beralih kewarganegaraan, demikian keterangan pelatih Paul Le Guen kepada reporter.
Bong adalah mantan pemain junior Perancis sedangkan Choupo-Moting telah bermain empat kali untuk Jerman dalam tim di bawah usia-21 tahun.
Keduanya adalah keturunan Kamerun dan memiliki kewarganegaraan ganda.
Berdasarkan aturan FIFA, pemain sepak bola dapat mengubah kewarganegaraan mereka jika mereka belum bermain di tingkat senior.
Kedua pemain ini dipilih bersama pemain baru lainnya di dalam 30 nama skuad awal pemain untuk Piala Dunia Afrika Selatan, yang akan berlangsung 11 Juni-11 Juli.
Kamerun di grup E akan berhadapan dengan Denmark, Jepang dan Belanda
Sumber : antaranews.co
Label:
Asal Usul,
FIFA,
Kontroversi,
Piala Dunia 2010,
Skuad
Friday, November 6, 2009
Hunt Tolak Inggris Demi Jerman
Penyerang Werder Bremen Aaron Hunt rupanya tak tertarik memperkuat timnas Inggris. Ia lebih memilih Jerman, negara yang telah membesarkannya.
Pamor Inggris saat ini memang lebih baik dibanding Jerman seiring dengan berkibarnya Liga Inggris sebagai salah satu liga terbaik dunia. Tapi untuk urusan 'cinta negara', Hunt lebih memilih Jerman.
Hunt memang berpeluang membela Inggris. Meski lahir di Jerman, penyerang berusia 23 tahun ini punya darah Inggris dari sang ibu.
Seiring dengan makin mengkilapnya kiprah Hunt di Bundesliga dan timnas U-21 Jerman, Inggris mulai meliriknya. Adalah pelatih U-21 Inggris, Stuart Pearce yang kini mencoba mempengaruhi Hunt.
Namun pencetak lima gol dalam lima laga Bundesliga ini rupanya tak tertarik dengan tanah kelahiran ibunya itu. Negara ayahnya lebih mempunyai arti dalam sosok penyerang bertinggi 183 cm ini.
"Saya tumbuh besar di Jerman dan belajar sepakbola di sini. Saya hanya ingin bermain untuk Jerman dan tidak berencana merubah pikiran saya," ujar Hunt.
"Saya telah mengatakan beberapa kali bahwa saya ingin bermain untuk Jerman," tegas Hunt kepada Blind, Selasa 3 November 2009.
Sejak bergabung ke tim senior Bremen pada 2004 silam, Hunt telah bermain di 88 laga dengan koleksi 18 gol. Sedangkan di timnas U-21 Jerman, Hunt mengoleksi tiga gol dalam 11 laga.
Sumber : VIVAnews
Baca Selengkapnya..
Pamor Inggris saat ini memang lebih baik dibanding Jerman seiring dengan berkibarnya Liga Inggris sebagai salah satu liga terbaik dunia. Tapi untuk urusan 'cinta negara', Hunt lebih memilih Jerman.
Hunt memang berpeluang membela Inggris. Meski lahir di Jerman, penyerang berusia 23 tahun ini punya darah Inggris dari sang ibu.
Seiring dengan makin mengkilapnya kiprah Hunt di Bundesliga dan timnas U-21 Jerman, Inggris mulai meliriknya. Adalah pelatih U-21 Inggris, Stuart Pearce yang kini mencoba mempengaruhi Hunt.
Namun pencetak lima gol dalam lima laga Bundesliga ini rupanya tak tertarik dengan tanah kelahiran ibunya itu. Negara ayahnya lebih mempunyai arti dalam sosok penyerang bertinggi 183 cm ini.
"Saya tumbuh besar di Jerman dan belajar sepakbola di sini. Saya hanya ingin bermain untuk Jerman dan tidak berencana merubah pikiran saya," ujar Hunt.
"Saya telah mengatakan beberapa kali bahwa saya ingin bermain untuk Jerman," tegas Hunt kepada Blind, Selasa 3 November 2009.
Sejak bergabung ke tim senior Bremen pada 2004 silam, Hunt telah bermain di 88 laga dengan koleksi 18 gol. Sedangkan di timnas U-21 Jerman, Hunt mengoleksi tiga gol dalam 11 laga.
Sumber : VIVAnews
Subscribe to:
Posts (Atom)



