Showing posts with label Riwayat Hidup. Show all posts
Showing posts with label Riwayat Hidup. Show all posts

Friday, June 18, 2010

Hernandez Ikuti Jejak Sang Kakek

Javier Hernandez pemain dari Meksiko benar-benar mengikuti langkah kakeknya, Tomas Balcazar, ketika ia berhasil mencetak gol pada pertandingan Piala Dunia melawan Prancis, Kamis (18/6) kemarin waktu setempat.

Sang kakek adalah pemain muda bagian depan Skuad Meksiko yang pernah mencetak gol pertama melawan Prancis pada Piala Dunia 1954, sebelum Hernandez lahir, dan kini Hernandez, pria berusia 22 tahun itu mengetahui semuanya.

"Ya saya baru ingat saat di ruang ganti. Saya berharap saya bisa mengatakan kepadanya segera," kata striker Prancis itu dengan berseri-seri saat jumpa pers setelah negaranya berhasil memenangkan angka 2-0 atas Prancis.

Hernandez beberapa bulan terakhir ini mengalami banyak keberuntungan setelah berhasil masuk seleksi untuk memperkuat tim nasional, melengkapi persyaratan ke Manchester United dan sekarang berhasil mencetak gol dalam Piala Dunia.

Namun ia memperlihatkan sikap bersahaja ketika ia menghapi media usai pertandingan.

"Semuanya berkat keluarga saya. Sehingga saya menjadi seperti sekarang ini," katanya.

Ayah Hernandez juga pemain Meksiko pada Piala Dunia 1986 bersama pelatih Javier Aguirre.

Sumber : www.mediaindonesia.com
Baca Selengkapnya..

Wednesday, January 6, 2010

Zanetti Beberkan Rahasia Hidupnya

Tak banyak pebola yang bisa menyamai pencapaian Javier Zanetti di Inter Milan. Di saat usianya mencapai 37 tahun, Zanetti tetap mampu menjadi pilihan utama di tim sekelas Beneamata.

Hal yang mungkin sulit dicapai oleh sebagian besar pebola saat ini tentunya. Tapi totalitas Zanetti pada sepakbola membuatnya mampu bertahan dari gencarnya pendatang-pendatang baru di sepakbola.

Zanetti sepertinya akan segera mencapai angka 500 dengan seragam Inter Milan. Pada laga kontra Chievo Verona hari ini, bek asal Argentina ini akan melakoni laga ke-482 bersama Beneamata.

Apa yang membuat Zanetti begitu lama mampu menjaga performanya?. Kepada La Gazzetta dello Sport, Zanetti membeberkan semua rumus jitunya untuk tetap mampu bersaing di level tertinggi.

“Sebagai starter, saya tidur banyak. Memulihkan stamini setelah kerja keras adalah kunci bagi atlet manapun," ujar Zanetti.

“Rahasia yang lain yakni saya tidak pernah terserang flu atau masalah otot. Dan karena ini saya juga dapat katakan saya sangat beruntung," tambahnya.

Bek sayap yang juga piawai bermain di posisi gelandang ini memang menjadi salah satu ikon Beneamata. Dan Inter pantas bersyukur mendapatkan pemain bernama lengkap Javier Adelmar Zanetti ini dari Banfield pada 1995 silam.

Loyalitas dan totalitas Zanetti hanya diberikan buat Internazionale dan timnas Argentina tentunya.
Sumber : VIVAnews

Baca Selengkapnya..

Wednesday, November 25, 2009

Alexandre Song, Nyanyian Zero to Hero

LAIKNYA pemain yang baru menjejakkan kaki di klub besar, Alexandre Song juga merasa gugup kala datang ke Arsenal. Kejadian itu terjadi pada Juli 2005 ketika drinya bersama pertinggi Bastia, klub yang menjualnya, melakukan finalisasi kontrak dengan"The Gunners".

“Jantungku seperti berdetak 200 kali per menit,” ujar Song. “Betapa kagetnya aku ketika melihat Robert Pires, Thierry Henry, dan Dennis Bergkamp ada di ruang ganti pemain. Aku bisa langsung melihat pemain-pemain yang biasanya kulihat di televisi. Aku sungguh gembira bisa berjumpa dengan pemain-pemain besar seperti mereka. Aku tak bisa melupakan kenangan itu sampai sekarang.”

Bahkan, ketika Henry menyapa dan mengucapkan selamat datang kepadanya, Song hanya mampu membalas dengan senyuman. Melihat wajahnya yang pucat, Dennis Bergkamp pun bertanya, “Apa kamu baik-baik saja?"

“Karena aku tak mengerti bahasa Inggris, aku bertanya kepada Henry apa yang dikatakan Berkamp. Henry mengatakan, Bergkamp mengucapkan selamat datang dan terkesan kehadiranku,” kata Song. “Saat itu juga aku bertanya pada diriku sendiri, ‘Apa yang kau lakukan di sini Alex?’”

Sebuah pertanyaan yang kini sudah berujung pada jawaban. From zero to hero. Mungkin itulah ungkapan yang tepat bagi pemain asal Kamerun ini. Sejak Juli 2005 sampai akhir musim lalu, dia sudah berungkali dihujani kritik. Kritikan yang menganggapnya tak cukup bagus untuk klub sebesar Arsenal.

Namun, musim ini, pemain berusia 22 tahun itu sanggup membuang semua cibiran itu. Peran apiknya sebagai gelandang jangkar di barisan tengah tim asuhan Arsene Wenger sekarang sama sekali tak terbantahkan.

Song mampu memberikan perlindungan bagi para defender dan sempurna, memosisikan diri menahan serangan lawan. Kemampuannya membaca pertandingan yang membuat rekan-rekannya berani untuk mendobrak pertahanan lawan.

Hujan Pujian
“Memang mungkin tak ada satu pun orang yang mengira kalau dia akan berada di level sekarang,” kata manajer Arsenal, Arsene Wenger. “Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang meyakini dia bakal hebat. Banyak artikel yang menuliskan dia adalah pemain terburuk yang pernah saya beli. Tapi, lihat nanti, dia akan menjadi salah satu pemain besar.”

Pujian bukan hanya dari Wenger. Kapten Arsenal 1971, Frank McLintock, bahkan bisa melihat kesamaan gaya permainan Song dengan Peter Storey. Bersama Storey, McLintock berhasil meraih gelar ganda bagi Arsenal, Piala FA dan Liga Inggris musim 1970-71. “Saya yakin Song akan bisa melakukan tugas yang sama seperti Storey lakukan dulu. Storey selalu bertugas sebagai gelandang jangkar dan melindungi barisan pertahanan. Sama seperti Song,” papar McLintock.

Melihat peran vital Song, Wenger pantas khawatir terhadap datangnya Piala Afrika Januari 2010 nanti. Tenaga Song jelas tak bisa dipakai, karena harus membela negaranya. Tapi, Song coba menenangkan. Dia yakin klub sebesar Arsenal tak akan kesulitan mencari penggantinya untuk sementara. Ada Denilson dan Abou Diaby di sana. Menurutnya, Arsenal yang kehilangan dirinya dan Emmanuel Ebou, akan tetap bisa meretas jejak juara di Premier League.

“Kami tak akan kehilangan terlalu banyak pemain. Karena hanya ada dua pemain asal Emirates di Afrika. Aku yakin Arsenal punya skuad yang mumpuni untuk mengatasi kehilangan ini. Denilson akan mampu menggantikanku. Dia memang cedera sekarang, tapi aku harap dia bisa segera turun bermain dalam beberapa bulan ke depan,” imbuh Song.

Kerendahaan hati dari seseorang Song tampaknya tak hilang sejak dari pertama kali menjejakkan kaki di Arsenal. Sebuah sifat yang identik dengan peran seorang gelandang bertahan hebat. Memberikan ketenangan. Ibarat nyanyian, dia melantunkan lagu "From Zero to Hero

Menikah Muda
SEBAGAI pemain yang berlimpah harta, Alexandre Song tak menjalani hidup seperti kebanyakan pemain muda sepertinya. Di saat pemain seusianya sibuk berganti pasangan dan hidup dari satu pesta ke pesta lainnya, Song memilih waktu bersama kedua anaknya. Pada usia 22 tahun, Song sudah memiliki dua anak laki-laki, Nolan dan Kaylian. Dia menikah dengan teman masa kecilnya, Olivia, di usia 18 tahun. Kematian ayah di saat Song baru berusia tiga tahun mendorongnya untuk menikah muda.

“Aku kehilangan ayahku di usia tiga tahun. Jadi, aku tahu betapa pentingnya peran ayah bagi seorang anak laki-laki. Ketika aku masih muda, teman-temanku selalu dijemput ayahnya usai pulang latihan. Tapi, aku tak punya siapa-siapa. Kenyataan itu sungguh memengaruhiku,” kenangnya pahit.

Tapi kini sudah berlalu. Dia mengaku sudah memiliki segalanya. Dua anak laki-laki dan seorang istri yang sempurna. Sekarang dia hanya ingin melihat kedua anaknya tumbuh dewasa. “Kini tak ada lagi yang aku inginkan selain melihat keluargaku hidup bahagia. Merekalah yang selalu menjadi sumber inspirasiku,” pungkasnya.

Berkat Paman Rigobert
DITINGGAL sang ayah di usia tiga tahun dan berada di sebuah keluarga besar yang terdiri dari 17 saudara perempuan dan sepuluh saudara laki-laki tentu membuat masa kecil Alexandre Song berada di bawah garis kemiskinan. Beruntung sebuah tangan terulur kepadanya dari seorang pesepakbola tenar Kamerun, Rigobert Song, yang juga merupakan pamannya. Rigobert yang juga ditinggal mati oleh ayahnya saat masih kanak-kanak tentu paham perasaan keponakannya itu.

Melalui Rigobert, Song meretas jala kesukesannnya menjadi pemain sepak bola. Dengan jeli Rigobert mencium bakat keponakannya dan mendidiknya menjadi pemain sepak bola. “Hubunganku dengan paman sangat dekat. Dia memberiku berbagai nasihat kapan pun aku memerlukannya,” jelas Song.

Dia kini bermain bersama di Timnas Kamerun. Awalnya tentu banyak cibiran menghampirinya. Banyak yang mengatakan kalau keberadaannya di timnas karena pamannya dan bukan karena kemampuannya. “Tapi sekarang semua sudah berubah. Orang-orang kini berkata kepada Rigobert, ’Keponakanmu sangat bagus, kami bangga memilikinya dalam tim,'” kata Song.

Dan kini, generasi sepak bola itu sepertinya akan berlanjut. Anak tertua Song, Nolan, sudah mulai menujukkan bakat sepak bola. “Ketika aku mengajaknya bersepeda, dia langsung menolak dan memilih bermain dengan bola. Tenaganya saat menendang sungguh mengaggumkan. Mungkin itu sudah mendarah-daging di keluarga kami,” bilang Song bangga. (SOCCER)

Biodata
Nama Lengkap: Alexandre Dimitri Song Billong
Jukukan: The Rhino
Lahir : Doula, 9 September 1987
Tinggi/Berat: 185 cm/ 75 kg
Posisi: Devensife midfielder/ centre back
Nomor Kostum: 17
Debut Premier League: Arsenal 2-0 Everton
Debut Timnas: Mesir 4-2 Kamerun, 22 Januari 2008

Karier Klub
2004-06: Bastia (34 main/0 gol)
2005-06: Arsenal (pinjam) (5 main/0 gol
2006-... : Arsenal (52 main/ 1 gol)
2007: Charlton (pinjam) (12 main/0 gol)

Sumber : kompas.com
Baca Selengkapnya..

Wednesday, October 7, 2009

Sepenggal Kisah Masa Lalu Grafite

Pernah menjadi tukang loak, menjadi striker akibat trauma yang dialami saat menjadi kiper, dan sempat tidak suka dengan nama Grafite. Itulah sepenggal kisah masa lalu dari sang bomber maut Vfl Wolfsburg.

Grafite. Nama ini menjadi momok bagi setiap penjaga gawang lawan. Musim lalu, ia keluar sebagai top skorer Bundesliga. Tak hanya prestasi pribadi, namun donasi 28 gol-nya membawa Wolfsburg meraih gelar juara Bundesliga.

Ketika telah berada di puncak kejayaan, pemain yang kini berusia 30 tahun tersebut berbagi tentang kisah masa lalunya.

Grafite mengatakan bahwa pada masa kecil, ia bermain sebagai penjaga gawang. Namun sebuah kejadian yang cukup menyakitkan membuatnya tak lagi ingin untuk menjadi kiper.

"Hingga usia 12 tahun saya adalah kiper. Suatu hari, ada pemain lawan yang menendang bola ke arah saya dan sepakannya mengenai bagian bawah dari tubuh saya," ujar Grafite seperti dilansir dari Daily Mail.

"Sejak itu, saya mengatakan bahwa saya tidak ingin jadi kiper lagi dan ucapan saya terwujud," tambah pria berkebangsaan Brasil itu.

Bagaimana dengan perjalanan karirnya? "Saya cukup terlambat terjun ke dunia profesional, saat berusia 22 tahun. Sebab, sebelumnya saya harus bekerja sebagai tukang loak," lanjutnya.

Pemain bernama lengkap Edinaldo Batista Libano itu selanjutnya meninggalkan kota kelahirannya, Sao Paolo dan mengikuti seleksi pemain di klub SE Mantonese. Di tim inilah, nama Grafite ia dapatkan.

"Ketika itu banyak pemain yang ikut tes di Mantonese. Pelatih tidak tahu nama saya, jadi saya dipanggil Grafite."

"Awalnya saya tidak suka dengan panggilan itu. Selanjutnya saya berkata kepada pelatih bahwa nama saya Edinaldo. Pelatih beralasan, dahulu dia pernah bermain dengan orang yang seperti saya dan namanya Grafite."

"Saya lolos seleksi dan ketika didaftarkan, saya mendapatkan kaos bernomor punggung 18 dengan nama Grafite. Nama itu tetap saya pakai hingga saat ini dan sejak itu jalan hidup saya bagus," tuntasnya.

Grafite berseragam Matonense di musim 1999-2000. Ia hanya tampil empat kali, tapi mencetak tujuh gol. Selanjutnya, ia berkelana ke berbagai klub. Klub-klub Brasil seperti Gremio, Sao Paulo, hingga klub dari Korea Selatan yakni Anyang LG Cheetahs pernah ia perkuat.

Satu dekade sejak awal perjuangan itu, Grafite telah memetik hasilnya.

Sumber : detiksport

Baca Selengkapnya..