Para fans Tim Nasional Afrika Selatan siap-siap kecewa karena mereka tak bisa lagi membawa dan membunyikan vuvuzela (sejenis terompet yang terbuat dari timah/plastik/tanduk binatang) saat Piala Dunia 2010 yang diselenggarakan di negaranya. Karena, bunyi yang keluar dari alat itu sangat mengganggu para penonton dan menghalangi kinerja serta komunikasi antara pelatih dengan para pemain yang sedang berlaga di lapangan.
Hal tersebut dialami langsung Tim Nasional Jepang ketika bertanding melawan Tim Nasional Afrika Selatan. Atas dasar itulah Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) melayangkan komplain kepada FIFA.
Presiden JFA, Motokai Inukai mengungkapkan di surat kabar Sankei Sports. "Kami telah meminta (kepada FIFA) melarang membunyikan alat itu saat pertandingan Piala Dunia tahun depan. Anda tidak dapat mendengar apa yang anda katakan sendiri," ungkapnya.
Hal senada dirasakan defender timnas Jepang, Tulio. Menurutnya, mereka sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan rekannya ketika berjarak dua meter. "Anda harus mendekat kepada rekan anda untuk memberikan berbagai instruksi," jelasnya.
Pelatih kesebelasan "Negeri Matahari Terbit", Takeshi Okada, turut berkomentar. "Mungkin jika mereka (Timnas Afrika Selatan) bermain bagus, para fans akan menyaksikan pertandingan dengan tenang."
Vuvuzela, atau biasa disebut Lepatata (sebuah terompet stadion panjangnya kira-kira 1 meter). Umumnya alat ini ditiup para fans Afsel ketika kesebelasan mereka bertanding. Asal-usul nama alat ini masih diperdebatkan. Ada yang mengatakan berasal dari bahasa Zulu, yang berarti membuat bising.
Dahulu, ada cerita berkembang di masyarakat bahwa seekor binatang bisa dibunuh akibat suara bising. Kini alat itu mengalami perluasan makna yang meminta para pemain untuk "membunuh" lawan mereka. Alat ini dahulu juga digunakan masyarakat pedesaan untuk memanggil orang-orang menghadiri pertemuan.
"Terompet" ini populer di Afsel sejak tahun 1990. Dan pada tahun 2001, salah satu perusahan yang menyediakan merchandise olahraga Afsel memperoduksi alat ini secara massal.
Sumber : kompas.com
Hal tersebut dialami langsung Tim Nasional Jepang ketika bertanding melawan Tim Nasional Afrika Selatan. Atas dasar itulah Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) melayangkan komplain kepada FIFA.
Presiden JFA, Motokai Inukai mengungkapkan di surat kabar Sankei Sports. "Kami telah meminta (kepada FIFA) melarang membunyikan alat itu saat pertandingan Piala Dunia tahun depan. Anda tidak dapat mendengar apa yang anda katakan sendiri," ungkapnya.
Hal senada dirasakan defender timnas Jepang, Tulio. Menurutnya, mereka sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan rekannya ketika berjarak dua meter. "Anda harus mendekat kepada rekan anda untuk memberikan berbagai instruksi," jelasnya.
Pelatih kesebelasan "Negeri Matahari Terbit", Takeshi Okada, turut berkomentar. "Mungkin jika mereka (Timnas Afrika Selatan) bermain bagus, para fans akan menyaksikan pertandingan dengan tenang."
Vuvuzela, atau biasa disebut Lepatata (sebuah terompet stadion panjangnya kira-kira 1 meter). Umumnya alat ini ditiup para fans Afsel ketika kesebelasan mereka bertanding. Asal-usul nama alat ini masih diperdebatkan. Ada yang mengatakan berasal dari bahasa Zulu, yang berarti membuat bising.
Dahulu, ada cerita berkembang di masyarakat bahwa seekor binatang bisa dibunuh akibat suara bising. Kini alat itu mengalami perluasan makna yang meminta para pemain untuk "membunuh" lawan mereka. Alat ini dahulu juga digunakan masyarakat pedesaan untuk memanggil orang-orang menghadiri pertemuan.
"Terompet" ini populer di Afsel sejak tahun 1990. Dan pada tahun 2001, salah satu perusahan yang menyediakan merchandise olahraga Afsel memperoduksi alat ini secara massal.
Sumber : kompas.com

No comments:
Post a Comment