Friday, May 21, 2010

Gaya Polisi Afsel Memeras Pekerja Seks

Pemerintah Afrika Selatan nampaknya tidak mau mengikuti jejak Jerman, yang menjadi tuan rumah pada Piala Dunia 2006. Pemerintah Afrika Selatan menyatakan tidak akan memberi tempat khusus bagi kegiatan prostitusi selama Piala Dunia yang digelar satu bulan itu.

“Jerman mengubah peraturan mengenai pekerja seks mereka untuk even Piala Dunia, tapi Afrika Selatan, hal itu tidak terjadi,” ujar salah seorang peneliti yang tengah bekerja sama dengan lembaga advokasi pekerja seks komersial, Marlise Richter (20/5/2010).

Ketua Panitia Piala Dunia Sibongile Mazibuko menegaskan pemerintah hanya akan membuat kemudahan bagi turis dan pekerja seks mendapatkan kondom, tapi dia mengakui tidak ada rencana untuk memberi solusi lain terhadap persoalan prostitusi itu.

“Kami tidak bisa membuat tempat khusus untuk mereka, karena kami tidak bisa menjadi bagian dari kejahatan. Kami tidak mau membuat peraturan hanya untuk menghadapi even yang berlangsung satu bulan ini,” katanya.

“Orang melihat kami seperti peternak AIDS, itu akan membunuh bisnis kami,’ ujar Mpho, salah seorang pekerja seks lain yang juga mangkal di kawasan Sandton.

Sementara sejumlah pekerja seks lain beroperasi diam-diam. Berapa jumlahnya belum diketahui pasti, mereka biasanya menjadi wanita penghibur di rumah-rumah bordil di pinggiran kota dan sebagian lagi menunggu tamunya di apartemen-apartemen eksklusif.

Sementara bagi pekerja seks kelas bawah seperti Zandile, mereka terpaksa bertahan mencari pelanggan di jalanan, kendati sangat rawan menjadi korban kejahatan dan pemerasan oleh oknum polisi.

“Polisi akan memeras kami. Mereka akan menangkap kami di jalanan, setelah di kantor polisi mereka meminta kami untuk melayani nafsu mereka. Atau mereka akan mengatakan, ‘mari kita bicara, yang mereka maksudkan itu apakah kami bisa memberi mereka uang,” ungkap Zandile.

Tapi sihir Piala Dunia begitu kuat bagi Abikanile. Meski ketidak pastian peraturan dan ancaman kejahatan yang tinggi, pekerja seks komersial asal Malawi ini tetap masuk ke Afrika Selatan. Seperti Zandile, dia berharap akan mendapatkan uang banyak dari even Piala Dunia.

“Saya diberi tahu, saya bisa mendapatkan uang banyak dalam satu pekan, sama seperti saya biasanya mendapatkannya dalam satu tahun. Jadi kenapa tidak,” kata Abikanile yang berusia 35 tahun dan mempunyai istri ini.

Jika dibandingkan dengan Piala Konfederasi, Zandile mengatakan, tidak banyak yang bisa didapat dari even pemanasan Piala Dunia itu. Saat turnamen berlangsung, dia mengaku hanya mendapat satu pelanggan.

“Saya cuma dapat satu, tapi setidaknya dari situ saya bisa membayar sewa rumah sebulan,” katanya.

Sumber : okezone.com

No comments:

Post a Comment