Friday, May 21, 2010

Nepotisme Piala Dunia

Afrika Selatan telah mengucurkan dana sekitar Rp 46,6 triliun untuk persiapan Piala Dunia 2010, termasuk membangun 10 stadion dan jaringan transportasi. Skandal korupsi dalam megaproyek itu hanya ada satu kasus. Namun, nepotisme, penyuapan, dan penipuan dalam proses lelang sangat kental.

Institute for Security Studies (ISS) baru-baru ini mengungkap hasil penelitian tentang konflik kepentingan di Piala Dunia. Laporan itu menyebutkan, setiap pergelaran akbar cukup memberi peluang bagi seseorang yang korup untuk memengaruhi hasil melalui suap, penipuan dan pemerasan.

Kasus besar yang mendapat perhatian serius adalah tender proyek stadion baru di Nelspruit yang menelan biaya hingga Rp 1,23 triliun. Pada 2007, pimpinan dewan kota, Jimmy Mohlala, diduga melakukan pelanggaran dalam pemberian kontrak kepada perusahaan Afrika Selatan, Basil Read, dan Bouygues Travaux Publics dari Perancis.

Setahun kemudian Mohlala tewas ditembak di rumahnya oleh dua orang berkerudung kepala. Polisi menyelidiki pembunuhan ini dan mengaitkannya dengan pembunuhan sejumlah politikus tingkat provinsi pada 2009. Sejumlah berita juga mengeluarkan daftar nama-nama calon korban pembunuhan karena menjadi oposisi dalam kontrak sejumlah proyek Piala Dunia 2010.

”Di banyak kasus lainnya, pembangunan infrastruktur Piala Dunia cukup bersih,” ujar Anthony Butler, profesor Ilmu Politik pada Universitas Witwatersrand di Johannesburg, Kamis (20/5).

Butler menilai masalah sebenarnya dalam proyek Piala Dunia adalah nepotisme. Baru-baru ini terjadi pertumbuhan pesat hubungan patronase yang berpusat pada pengadaan sektor publik.

”Di seluruh tingkat pemerintah, kontrak diberikan berdasarkan hubungan politik, pribadi, atau keluarga, dibandingkan persaingan terbuka,” ujar Butler.

Masalah nepotisme ini menjadi perhatian serius para peneliti di ISS. Penelitian difokuskan pada pembangunan stadion baru di Durban yang menyedot dana sekitar Rp 3,8 triliun.

”Ketika tak ada bukti korupsi, keuntungan dari stadion baru ini hanya terpusat pada sejumlah perusahaan konstruksi besar dan politisi elite lokal,” demikian tulis peneliti ISS, Sam Sole.

Konflik kepentingan di Afrika Selatan tidak menurun, tetapi justru terus meningkat. Lebih dari 50.000 pegawai negeri memiliki bisnis pribadi, mengacu pada laporan ISS. Persekutuan dan partai komunis, keduanya terhubung dengan Kongres Nasional Afrika (ANC), terus menyerang para tenderpreneurs, orang-orang yang mengambil keuntungan dari kontrak pemerintah dan memberikan bingkisan tanda terima kasih kepada koneksi politiknya.

Konflik kepentingan yang terus meningkat itulah yang menurunkan peringkat Afrika Selatan dalam indeks tingkat korupsi dari lembaga Transparansi Internasional. Afrika Selatan di posisi ke-34 pada 2000 dan melorot ke posisi ke-55 tahun lalu.

”Banyak para pemimpin senior ANC khawatir. Pada saat yang sama terlalu banyak anggota yang terancam oleh perilakunya sendiri,” ujar Butler. ”Jenis-jenis pengayaan diri yang dulu terbatas pada elite ANC sekarang meluas,” lanjut Butler.

Korupsi juga menjadi komoditas pencitraan para elite pemerintah. Presiden Jacob Zuma sejak berkuasa tahun lalu sering mengutuk keras politisi korup.

Namun, setiap warga Afrika Selatan akan selalu ingat saat penyidik kejaksaan membatalkan penyelidikan korupsi terhadap Zuma sebelum pemilihan umum tahun lalu. Pembatalan penyelidikan itulah yang mengantar Zuma meraih kursi kekuasaan.

Afrika Selatan berharap Piala Dunia mampu mempercepat pemulihan perekonomian. Para pakar ekonomi menilai Piala Dunia akan menyumbang 0,3-0,7 persen poin pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Sumber : kompas.com

No comments:

Post a Comment