Calcio Storico, Cikal Bakal Sepak Bola di Italia
Calcio Storico yang dimainkan di Piazza Santacroze. (Foto: Dok. Euromaxx)
Menarik melihat tayangan DW-TV Asia+ di Channel 357 Indovision pada akhir Juni lalu. Dalam salah satu tayangan Euromaxx – program khusus yang tren, fesyen, kultur, dan seni di Eropa, dibahas sebuah permainan bernama Calcio Storico.
Melihat dari namanya, hampir semua orang paham jika itu dimainkan di Italia. Memang benar. Permainan yang punya nama lain Calcio Fiorentino yang tumbuh sejak abad ke-16 itu menjadi asal muasal keberadaan sepak bola di Italia.
Laiknya sebuah permainan yang menjadi cikal bakal cabang olahraga, Calcio Storico mempunyai beberapa persamaan dengan calcio atau sepak bola modern. Persamaan yang paling mendasar tentulah tujuan utama permainan tersebut. Seperti halnya sepak bola. Calcio Storico menuntut sebuah tim untuk mencetak gol atau ”cacce” sebanyak-banyaknya ke gawang lawan.
Ilustrasi Calcio Storico atau Calcio Fiorentino. (Foto: Dok. Wikipedia)
Secara taktik pun tak jauh beda. ”Sebuah tim dituntut untuk menjaga ball possession agar bisa menambah kesempatan menembak ke gawang lawan,” ujar Marino Vieri, yang menjadi kapten tim putih (Bianchi) atau Santo Spirito, kepada reporter Euromaxx , Gerhard Sonnleitner.
”Perbedaannya, jika sepak bola modern pemain cenderung berorientasi pada uang besar, di Calcio Storico kami bermain untuk passion dan dengan hati,” lanjut Vieri.
Perbedaan lainnya terletak pada jumlah pemain, waktu pertandingan, dan cara bermain. Pada Calcio Storico, jumlah pemain dalam satu tim yang bertanding adalah 27 orang. Mereka akan bermain selama 50 menit untuk mencetak “cacce” sebanyak-banyaknya.
Jika di sepak bola hanya kepala dan kaki yang bisa digunakan, pada Calcio Storico tangan pun boleh ikut bermain. Pada kenyataannya, lebih dari itu. Calcio Storico menjadi permainan cowok dengan “mengizinkan” adanya gerakan menanduk bahkan memelintir lawan. Tapi, itulah orang yang membuat bergairah untuk datang menyaksikan permainan ini di Piazza Santacroce, Firenze. Seperti diutarakan Alessandro Rialti, jurnalis Corriere dell Sport .
“Calcio Storico adalah permainan jalanan. Di timnas Italia pun, ada yang mempunyai karakter seperti. Dialah Gennaro ‘Rhino’ Gattuso. Dengan fisiknya yang kuat, Gattuso selalu memperlakukan pertandingan bagai medan pertempuran” jelas dia saat diwawancarai Euromaxx .
Calcio Storico biasa dimainkan oleh empat tim dengan warna berbeda. Santa Croce (Azzuri) yang berkostum biru, Santa Maria Novella (Rossi) yang mengenakan warna merah, Santo Spirito (Bianchi), dan San Giovanni (Verdi) yang berseragam hijau.
Pelipur Lara Gli Azzuri
Menariknya, untuk penyelenggaraan tahun ini, Calcio Storico dimainkan pada hari yang sama dengan pertandingan penentuan Italia di final Piala Dunia.
Tepatnya laga antara Gli Azzuri dan Slovakia pada 24 Juni lalu. Kondisi itu sempat membuat konsentrasi terpecah lantaran parade atau defile kontingen, dilakukan tiga jam sebelum kick-off pertandingan antara Italia dan Slovakia.
Tapi, setelah Italia gagal menampilkan permainan terbaik melawan Slovakia, fokus publik di Firenze langsung terpusat ke Piazza Santacroce. Beberapa tifosi berharap bisa melupakan kekalahan menyakitkan Italia dengan menyaksikan Calcio Storico.
Calcio Storico yang dimainkan di Piazza Santacroze. (Foto: Dok. Euromaxx)
“Italia memang tampil buruk. Karena itulah, kami berharap Calcio Storico akan menghadirkan keberuntungan bagi sepak bola Italia,” ujar salah seorang penonton. “Jujur, saya berharap Italia bakal menang, tapi ternyata tidak. Saya pun datang ke sini untuk menyaksikan Calcio Storico. Sebab, pada laga ini, semua adalah pemenang,” tambah penonton yang lain.
Hasil berbeda memang terjadi di Piazza Santacroce. Jika di Piala Dunia Italia yang berkostum biru kalah dari Slovakia yang mengenakan kostum putih, kejadian sebaliknya terjadi di Calcio Storico. Tim putih harus menelan kekalahan tiga kali berturut-turut.
“Kami kehilangan 3-4 pemain lantaran cedera. Akibatnya, mudah bagi lawan untuk menang,” aku Marino Vieri. ”Tapi, tak ada kesedihan dengan kekalahan ini. Sebab, kami lebih sedih melihat Italia tersungkur di babak pertama Piala Dunia.”
Pertandingan Calcio Storico memang keras. Tapi, segala ketegangan dan emosi yang terjadi hilang begitu laga berakhir. Semua tim dengan cepat melakukan rekonsiliasi. Mereka langsung melupakan segala hal yang terjadi di Piazza Santacroce dengan cepat. Topik pun beralih dengan membahas kegagalan Italia di Piala Dunia.
Tampaknya, sepak bola Italia harus kembali berkaca pada akar sejarahnya, Calcio Storico. Pada Calcio Storico, setiap pemain ditugaskan untuk berani. Termasuk berani untuk melakukan rebutan bola dan bertarung dengan lawan. Itulah yang tak dimiliki Gli Azzuri di Piala Dunia. Seperti dikatakan Fabio Cannavaro. “Kami bermain dengan penuh ketakutan,” ulas kapten Italia itu.

No comments:
Post a Comment