Resah dengan isu penjualan suara dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia, FIFA kini mendapat tekanan untuk menunda proses bidding Piala Dunia 2018 dan 2022.
Belum lama ini, badan sepakbola dunia memang diterpa kabar tak sedap. Dua anggota FIFA Amos Adamu (Nigeria) dan presiden Konfederasi Sepakbola Oceania untuk Tahiti Reynald Temarii, disebut-sebut menawarkan hak suaranya kepada para kandidat tuan rumah Piala Dunia 2018.
FIFA sendiri telah berkomitmen untuk menginvestigasi laporan tersebut. "FIFA telah meminta seluruh informasi dan dokumen terkait masalah ini dan masih menunggu untuk menerima materinya," demikian pernyataan resmi FIFA.
Terbongkarnya permasalahan tersebut mencuatkan keraguan pada proses bidding Piala Dunia 2018 dan 2022. Guardian melansir, Senin (18/10/2010), sejumlah pihak meminta FIFA menunda pemungutan suara, yang sedianya dihelat 2 Desember mendatang, guna menyelidiki tuduhan tersebut.
Meski begitu, beberapa anggota komisi eksekutif FIFA yakin, proses pemungutan suara akan berjalan sesuai jadwal. "Seharusnya komisi etika tidak butuh waktu terlalu lama untuk mengumpulkan semua fakta. Tanggal 2 Desember sudah dipilih (untuk melakukan pemungutan suara) dan saya tidak melihat perlunya menunda hal itu," ungkap Chuck Blazer, salah satu anggota komite eksekutif di New York.
Adamu dan Temarii merupakan dua dari 24 anggota komisi eksekutif FIFA. Dalam pertemuan di London dan Kairo beberapa waktu lalu, Adamu kabarnya sempat meminta 500 ribu pounds untuk membangun empat lapangan sepakbola artifisial di Nigeria. Sebagai gantinya, dia siap memberikan suara kepada Amerika Serikat untuk menghelat Piala Dunia 2018.
Temarii juga dikabarkan meminta bayaran sekira 1,5 juta pounds untuk membangun akademi olahraga.
Sumber : okezone.com
Belum lama ini, badan sepakbola dunia memang diterpa kabar tak sedap. Dua anggota FIFA Amos Adamu (Nigeria) dan presiden Konfederasi Sepakbola Oceania untuk Tahiti Reynald Temarii, disebut-sebut menawarkan hak suaranya kepada para kandidat tuan rumah Piala Dunia 2018.
FIFA sendiri telah berkomitmen untuk menginvestigasi laporan tersebut. "FIFA telah meminta seluruh informasi dan dokumen terkait masalah ini dan masih menunggu untuk menerima materinya," demikian pernyataan resmi FIFA.
Terbongkarnya permasalahan tersebut mencuatkan keraguan pada proses bidding Piala Dunia 2018 dan 2022. Guardian melansir, Senin (18/10/2010), sejumlah pihak meminta FIFA menunda pemungutan suara, yang sedianya dihelat 2 Desember mendatang, guna menyelidiki tuduhan tersebut.
Meski begitu, beberapa anggota komisi eksekutif FIFA yakin, proses pemungutan suara akan berjalan sesuai jadwal. "Seharusnya komisi etika tidak butuh waktu terlalu lama untuk mengumpulkan semua fakta. Tanggal 2 Desember sudah dipilih (untuk melakukan pemungutan suara) dan saya tidak melihat perlunya menunda hal itu," ungkap Chuck Blazer, salah satu anggota komite eksekutif di New York.
Adamu dan Temarii merupakan dua dari 24 anggota komisi eksekutif FIFA. Dalam pertemuan di London dan Kairo beberapa waktu lalu, Adamu kabarnya sempat meminta 500 ribu pounds untuk membangun empat lapangan sepakbola artifisial di Nigeria. Sebagai gantinya, dia siap memberikan suara kepada Amerika Serikat untuk menghelat Piala Dunia 2018.
Temarii juga dikabarkan meminta bayaran sekira 1,5 juta pounds untuk membangun akademi olahraga.
Sumber : okezone.com

No comments:
Post a Comment