Tim sepakbola SOIna(Special Olympics Indonesia)yang terdiri dari atlet penyandang tunagrahita ikut memeriahkan final APSSO 2010 lewat pertandingan eksebbisi di lapangan B gelora bung karno, jakarta, Senin 98/11/2010)(lina)
Keterbatasan fisik dan mental tidak menghalangi seseorang untuk beraktivitas, termasuk pula dalam berolahraga. Contohnya diperlihatkan oleh atlet tunagrahita yang tergabung dalam Special Olympics Indonesia (SOIna).
Para atlet dengan keterbelakangan mental itu terbukti mampu menunjukkan kemampuannya bersepak bola bersama atlet reguler dalam final cabang sepak bola ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO) IV/2010 di Lapangan B Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (8/11/2010). Para pemain APSSO ini berasal dari beragam negara se-Asia Tenggara, antara lain, Oki Saputra dan Sudirman dari Indonesia, Tanapon (Thailand), dan Zulkarnaen (Singapura).
Panitia memilih delapan atlet APSSO untuk bergabung dengan 12 atlet SOIna binaan sentra pelatihan Rawamangun. Atlet-atlet itu dibagi menjadi dua tim dan masing-masing diperkuat oleh empat orang atlet APSSO yang telah diseleksi oleh pihak panitia.
Duel kedua tim ini tidak seperti pertandingan sepak bola pada umumnya. Durasi yang digunakan hanya 2 x 10 menit. Meski berlangsung singkat, pertandingan ini cukup menarik minat penonton.
Ekshibisi ini sendiri merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan SOIna dengan dukungan dari Unicef dan British Council. Tujuannya untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat dan para atlet reguler tentang manfaat olahraga sebagai media untuk menjembatani jarak antara anak-anak dan berbagai macam kondisi, baik ekonomi, sosial, maupun menyangkut perbedaan kemampuan.
Ketua I SOIna Iskandar ZA menyatakan, pertandingan ini memperlihatkan bagaimana olahraga dapat meruntuhkan penghalang di antara anak-anak dan berbagai macam kondisi untuk bergabung bersama-sama, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun pertemanan. "Ini merupakan salah satu program dari Special Olympics yang juga bertujuan untuk menghilangkan stereotip negatif terhadap penyandang tunagrahita," kata Iskandar.
Hal senada juga diungkapkan oleh Suyanto selaku Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdiknas RI. "Olahraga seharusnya tidak hanya menghibur, tapi juga suatu sarana untuk mempromosikan penghormatan atas keberagaman martabat, toleransi, persamaan, dan solidaritas," katanya.
Pertandingan persahabatan ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dalam kegiatan APSSO. Acara ini juga digelar dalam rangka peluncuran Program Inspirasi Internasional di Indonesia pada pertengahan November 2010. Program Inspirasi Internasional merupakan program resmi dari penyelenggara olimpiade musim panas 2012 di London, Inggris.
Sumber : kompas.com
Para atlet dengan keterbelakangan mental itu terbukti mampu menunjukkan kemampuannya bersepak bola bersama atlet reguler dalam final cabang sepak bola ASEAN Primary School Sport Olympiad (APSSO) IV/2010 di Lapangan B Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (8/11/2010). Para pemain APSSO ini berasal dari beragam negara se-Asia Tenggara, antara lain, Oki Saputra dan Sudirman dari Indonesia, Tanapon (Thailand), dan Zulkarnaen (Singapura).
Panitia memilih delapan atlet APSSO untuk bergabung dengan 12 atlet SOIna binaan sentra pelatihan Rawamangun. Atlet-atlet itu dibagi menjadi dua tim dan masing-masing diperkuat oleh empat orang atlet APSSO yang telah diseleksi oleh pihak panitia.
Duel kedua tim ini tidak seperti pertandingan sepak bola pada umumnya. Durasi yang digunakan hanya 2 x 10 menit. Meski berlangsung singkat, pertandingan ini cukup menarik minat penonton.
Ekshibisi ini sendiri merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan SOIna dengan dukungan dari Unicef dan British Council. Tujuannya untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat dan para atlet reguler tentang manfaat olahraga sebagai media untuk menjembatani jarak antara anak-anak dan berbagai macam kondisi, baik ekonomi, sosial, maupun menyangkut perbedaan kemampuan.
Ketua I SOIna Iskandar ZA menyatakan, pertandingan ini memperlihatkan bagaimana olahraga dapat meruntuhkan penghalang di antara anak-anak dan berbagai macam kondisi untuk bergabung bersama-sama, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun pertemanan. "Ini merupakan salah satu program dari Special Olympics yang juga bertujuan untuk menghilangkan stereotip negatif terhadap penyandang tunagrahita," kata Iskandar.
Hal senada juga diungkapkan oleh Suyanto selaku Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdiknas RI. "Olahraga seharusnya tidak hanya menghibur, tapi juga suatu sarana untuk mempromosikan penghormatan atas keberagaman martabat, toleransi, persamaan, dan solidaritas," katanya.
Pertandingan persahabatan ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dalam kegiatan APSSO. Acara ini juga digelar dalam rangka peluncuran Program Inspirasi Internasional di Indonesia pada pertengahan November 2010. Program Inspirasi Internasional merupakan program resmi dari penyelenggara olimpiade musim panas 2012 di London, Inggris.
Sumber : kompas.com

No comments:
Post a Comment