Wakil Ketua DPR Pramono Anung angkat bicara terkait masuknya sejumlah politisi dalam bursa calon Ketum PSSI. Pram melihat kepentingan politik kembali mendominasi.
Di hari terakhir pendaftaran calon ketua umum PSSI (23/4/2011) kemarin, terdapat dua nama politisi yang didaftarkan. Mereka adalah politisi PDI-P Maruarar Sirait dan Achsanul Qosasi yang merupakan wakil ketua Komisi I DPR RI.
Ara diusung oleh PSBL Bandar Lampung, sementara Achsanul dicalonkan oleh Persija Selatan anggota Divisi II PSSI.
Pram menuturkan, pemilihan Ketua PSSI telah menjadi ajang publikasi. Hal ini menjadi ekspose individu calon ketum di depan publik untuk kepentingan politik masing-masing.
"Yang paling utama, PSSI membuat kesal masyarakat, misalnya untuk memilih ketum PSSI lebih besar tarik-menarik politiknya, lebih dominan ketimbang kerja kerasnya ke depan," ujar Pram, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (26/4/2011).
"Pemilihan Ketum PSSI menjadi panggung publikasi dirinya. Mendapatkan ekspose yang luar biasa dari publik. Jangan seperti Briptu Norman dan Justin Bieber yang jadi terkenal," keluh Pram.
Menurut Pram, harusnya ketum PSSI diisi orang yang berkompeten di bidangnya. Kepentingan politik harus dinomorduakan demi kepentingan nasional yang lebih besar.
"Saya menyayangkan PSSI jadi sarana seperti ini. Harusnya Ketum PSSI diisi orang yang gila bola dan mau berkorban. Sedikit sekali orang yang mau seperti ini. Jadi PSSI hanya dijadikan ajang untuk menjadi terkenal karena pernah menjadi pengurus PSSI. Saya gila bola tapi saya mengukur baju, karena saya politisi saya tidak punya banyak cukup waktu. Mudah-mudahan mereka yang maju bajunya tidak kegedean," tuturnya.
Sumber : detiksport.com
Di hari terakhir pendaftaran calon ketua umum PSSI (23/4/2011) kemarin, terdapat dua nama politisi yang didaftarkan. Mereka adalah politisi PDI-P Maruarar Sirait dan Achsanul Qosasi yang merupakan wakil ketua Komisi I DPR RI.
Ara diusung oleh PSBL Bandar Lampung, sementara Achsanul dicalonkan oleh Persija Selatan anggota Divisi II PSSI.
Pram menuturkan, pemilihan Ketua PSSI telah menjadi ajang publikasi. Hal ini menjadi ekspose individu calon ketum di depan publik untuk kepentingan politik masing-masing.
"Yang paling utama, PSSI membuat kesal masyarakat, misalnya untuk memilih ketum PSSI lebih besar tarik-menarik politiknya, lebih dominan ketimbang kerja kerasnya ke depan," ujar Pram, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (26/4/2011).
"Pemilihan Ketum PSSI menjadi panggung publikasi dirinya. Mendapatkan ekspose yang luar biasa dari publik. Jangan seperti Briptu Norman dan Justin Bieber yang jadi terkenal," keluh Pram.
Menurut Pram, harusnya ketum PSSI diisi orang yang berkompeten di bidangnya. Kepentingan politik harus dinomorduakan demi kepentingan nasional yang lebih besar.
"Saya menyayangkan PSSI jadi sarana seperti ini. Harusnya Ketum PSSI diisi orang yang gila bola dan mau berkorban. Sedikit sekali orang yang mau seperti ini. Jadi PSSI hanya dijadikan ajang untuk menjadi terkenal karena pernah menjadi pengurus PSSI. Saya gila bola tapi saya mengukur baju, karena saya politisi saya tidak punya banyak cukup waktu. Mudah-mudahan mereka yang maju bajunya tidak kegedean," tuturnya.
Sumber : detiksport.com

No comments:
Post a Comment