Thursday, June 9, 2011

Suka Duka Tim Sepak Bola Perempuan Afghanistan, Bermain Bola Diancam oleh Warga

Tim Nasional Sepak Bola Perempuan Afghanistan sedang berlatih di dekat markas NATO di Kabul. (Photo : CNN)

Ketika rekan-rekannya di negara lain mendapat dukungan penuh untuk bermain sepak bola, maka tim sepak bola perempuan Afghanistan sebaliknya. Mereka menerima berbagai ancaman, termasuk ancaman mati. Sepak bola menjadi benda haram yang tak boleh disentuh kaum hawa.


Khalida Popal, kapten tim perempuan, mengatakan ia menerima SMS berisi ancaman. Bahwa ia harus berhenti mempermalukan masyarakatnya. Popal bahkan harus berselisih dengan keluarganya yang meminta dia menghentikan menendang bola.

"Saya mencintai sepak bola. Sepak bola adalah segalanya bagi saya. Ketika saya menendang bola, saya melupakan semua kesedihan saya. Perasaan saya bahagia ketika bermain bersama teman-teman," kata Popal.

Tapi rintangan tetap ada. Popal dan segenap tim perempuan tak punya lapangan untuk berlatih bola. Sebelumnya, beberapa bulan lalu, mereka dapat kelonggaran untuk menggunakan berlatih di Stadion Kabul. Di tempat ini, dulunya, Taliban kerap mengeksekusi warga Afganistan.

Sialnya, baru beberapa bulan berlatih, pejabat sepak bola lokal melarang mereka menggunakan lapangan Stadion. Ke mana tim perempuan ini mengadu? NATO menjadi penolong mereka. Kini Popal dan rekan-rekannya berlatih di lapangan militer, tepat di sebelah markas NATO di Kabul.

Masalahnya, lapangan itu bukanlah lapangan bola. Memang sih ada rumput yang tebal dan tiang gawang. Namun, lapangan itu adalah landasan helikopter yang aktif digunakan sehari-hari oleh NATO. Jadilah Popal dan teman-temannya berlatih dan bisa berhenti sejenak untuk mempersilahkan helikopter mendarat.

Popal menggambarkan, betapa kerasnya tentangan masyarakat dan budaya lokal terhadap perempuan bermain sepak bola. Ketika keluarganya melarang ia berlatih bola, Popal mengatakan ia sampai putus asa.

"Ketika keluarga melarang saya bermain bola, saya mencoba bunuh diri," kata dia. Untungnya, Popal masih bisa diselamatkan.

Rintangan tak cuma datang dari masyarakat. Tapi juga dari pemerintah. Tim nasional sepak bola perempuan Afghanistan jarang dikirim bertanding ke luar negeri. Karena tak ada tim perempuan lain di negara yang terkoyak konflik bertahun-tahun itu, jadilah mereka berlatih tanding melawan prajurit perempuan NATO.

Bila Poppal masih kuat menghadapi ancaman terhadap dirinya, maka bagi beberapa anggota tim tidak demikian. Contohnya Khattol Khan. Ia mengatakan menerima ancaman terus menerus hingga ia jadi paranoid. "Saya berpikir untuk tidak lagi ikut tim bola," katanya. "Sudah dua anggota tim kami berhenti dan mereka meninggalkan AFghanistan, keluarga saya ingin saya berbuat seperti mereka."

Ayah Khan sebenarnya bangga juga puterinya bermain dalam timnas sepak bola perempuan. Namun, hati seorang ayah juga menyimpan was was karena banyaknya ancaman pada Khan. "Saya khawatir sekaligus bangga pada dia," katanya.

Sumber : republika.co.id

No comments:

Post a Comment